Laman Favorit

Koleksi Buku Bacaan

  • Gudang Ilmu
  • Sampaikanlah walau 1 ayat

Minggu, 07 Juli 2013

Nasib Lautku yang berada di Perbatasan

NUNUKAN - Indonesia merupakan negara kepulauan dari sabang sampai merauke, yang memiliki wilayah laut yang cukup luas, yakni diperkirakan sebesar 5.8 juta km2 dengan garis pantai terpanjang di dunia sebesar 81.000 km dan gugusan pulau-pulau sebanyak 17.508. Luar bisa bgeri dengan beribu pulau dan khasanah budaya yang majemuk. Namun apa yang terjadi, dengan tersedianya sumber daya yang sebanyak itu kita, terutama penduduk pesisir indonesia yang nota bene adalah nelayan, petani tambak dan budidaya. Belum lagi kita berbicara tentang pariwisata laut indonesia yang seabreg. Begitupun bila kita tinjau dari sisi strategis, Indonesia memiliki selat malaka yang sangat terkenal dengan jalur perairan tersibuk di dunia, yang memiliki potensi sangat besar dalam mendatangkan pendapatan bagi negara dari segi transportasi kelautan dan bea cukai barang. Namun apa yang bisa kita lihat, kita selalu terpecundangi dalam hal kelautan, selalu saja ikan kita di ambil oleh nelayan asing. Pulau-pulau sampai budaya khas kita diambil oleh negara tetangga kita negara Malaysia yang mengaku-ngaku sebagai negara serumpun dengan Indonesia. Luas wilayah laut kita pun juga tak luput dari penjajahan era baru dari negara tetangga kita. Lihat saja sekarang wilayah daratan negara tetangga kita singapura bertambah secara siknifikan, dan bermunculan menjadi casino dan tempat-tempat yang bernilai cukup wah harganya.Tapi di lain pihak siapa yang sangat dirugikan? ya bangsa kita Indonesia, ketika singapura mulai unjuk gigi karena wilayah daratanya semakin luas hingga mengurangi wilayah perairan negeri kita di selat malaka, mirisnya banyak sekali pulau-pulau kita tenggelam karena pasir-pasir lautnya diangkut semua ke negeri singa. Dan yang tak kalah menggeramkan lagi pasir-pasir tersebut dijual dengan harga sangat murah sekali, dibawah satndart harga internasional. Lagi-lagi negriku dipecundangi tetangga dekatnya. Yang tak kalah tragisnya lagi nelayan-nelayan kita tetap saja tidak memiliki bargain yang signifikan dalam pendapatan mereka. Selama bertahun-tahun memanfaatkan sumberdaya kelautan, ilmu mereka juga bisa kita katakan masih cetek dalam managemen kelautan mereka, apalagi dalam hal teknologi. Sementara nelayan dari negara lain yang sering kali masuk perairan Indonesia untuk nyolong ikan kita menggunakan global positioning system (GPS) untuk menetukan kemana arah mereka berburu ikan, nelayan kita masih mengandalkan tanda-tanda alam untuk memulai perburuan. Sekali lagi negeri ini sebetulnya negeri yang kaya raya di sumber daya kelautan, namun di dalamnya banyak sekali orang yang malas untuk belajar dan enggan untuk terus mengasah kemampuan khususnya dalam berbagai aspek kelautan. Kurang adanya prioritas pembangunan di sektor kelautan menambah berat upaya untuk menggali potensi didalamnya. Padahal sebetulnya sumberdaya kelautan merupakan aset besar yang dimiliki bangsa ini, selain itu perlu juga untuk di lestarikan, bukan malah di kotori dan di rusak. Sering kita lihat dan kita dengar nelayan kita menggunakan bom ikan dan jaring pukat harimau untuk menangkap ikan, apa jadinya? terumbu karang kita rusak, ikan-ikan kecil yang semestinya harus dibiarkan hidup, mati dan terjaring pukat harimau. Hasilnya, hasil tangkapan nelayan sedikit-demi sedikit mulai menurun, karena habitat ikan rusak, tidak ada planton yang bisa dijadikan makanan ikan. Dalam segi pengolahan hasil perikanan, ikan-ikan kita deberi bandrol sangat murah sekali di pasaran luar negeri. Alibi mereka ikan kita sudah agak kusam, ukuranya tidak sama, kuota yang dibutuhkan selalu tidak terpenuhi standart kelayakannya. Tetapi itu juga ada benarnya, kalau kita lihat lebih cermat lagi, pengolahan hasil perikanan laut kita lemah dalam hal packaging, marketing dan labeling. Kalau kita melongok sedikit ke daerah perbatasan Indonesia dan malaysia, di sekitar wilayah NUNUKAN kalimantan timur, nelayan kita lebih memilih untuk menjual hasil tangkapan ikan mereka ke malaysia karena harganya lebih baik dan tidak akan ada yang tersisa dan membusuk. Apa sebabnya? Hal itu terjadi selain karena harga yang diperoleh nelayan dari hasil mereka melaut sangat tidak mencukupi untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Lebih-lebih yang sangat menggelikan lagi di daerah NUNUKAN sampai tahun 2007 ini masih belum tersedia pabrik es yang sangat dibutuhkan nelayan-nelayan setempat untuk mendinginkan hasil tangkapannya. Anehkan? sangat ironis sekali, wilayah yang terkenal dengan sumber ikan yang melimpah seperti hanya di wilayah perairan NUNUKAN tersebut para nelayannya setiap hari kebingungan karena takut ikan-ikannya membusuk dan tak laku dijual kepasar. Di sisi lain, lihat saja pelabuhan-pelabuhan kita yang tetap saja mandek berstandart sebagai pelabuhan nasional, dengan berlikunya birokrasi, kumuhnya lokasi pelabuhan, minimnya sarana dan prasarana penunjang di dalamnya. Apa, jadinya? Kapal-kapal asing enggan bersandar di pelabuhan Indonesia, mereka mereka lebih memiliki bersandar di malaysia atau singapore. Karena mereka merasa disana mereka aman, terpenuhi segala kebutuhannya dan gampang sekali birokrasinya. Masih banyak lagi potensi kelautan yang belum tergarap dengan sungguh-sungguh. Dari segi pariwisata, masih banya terjadi konflik kepentingan yang menyebabkan pembangunan dalam aspek tersebut terbengkalai alias mangkarak. Dari segi pertanian laut, seperti petani rumput laut juga masih belum bisa memenuhi kuota ekspor yang dibutuhkan. Selau cara budidaya yang kelewat kuno, hal lain juga dikarenakan, mereka kebingungan dalam hal permodalan dan pemasaran, selalu saja mereka bertemu dengan para tengkulak yang selalu merugikan mereka. Laut beserta isinya harus kita lestarikan. Sedikit demi sedikit kita harus menyadarkan seluruh komponen bangsa indonesia, baik itu pemerintah, masyarakat, pihak swasta untuk memanfaatkan laut dengan searif-arifnya. Mulailah untuk tidak hanya mengeksploitasi dan mengeksploitasi saja, dengan tidak mengindahkan keberlangsungan hidup ekosistem laut di dalamnya. Semoga segera kita semua melek mata bahwa laut sangat berharga sekali bagi kita orang Indonesia.... Jangan sampaim kekayaan kita terus di ambil oleh pihak lain yang tidak bertanggung jawab. By Lintas  perbatasan Ambalat (sebatik- malaysia)